Kamis, 07 Februari 2013

kurikulum

PENDIDIKAN, KURIKULUM, DAN PENGAJARAN
  1. PENDIDIKAN
1.        Pengertian Pendidikan
Pendidikan berasal dari kata pedagogi yang berarti pendidikan dan kata pedagogia yang berarti ilmu pendidikan yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari dua kata yaitu “Paedos” dan “Agoge” yang berarti “saya membimbing, memimpin anak.” Dari pengertian ini pendidikan dapat diartikan: kegitaan seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
Selain itu, rumusan pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli antara lain :
a.        John Dewey
Pendidikan merupakan suatu proses pembentukan kecakapan mendasar secara intelektual dan emosional sesama manusia.
b.        J.J. Rouseau
Pendidikan merupakan pemberian bekal kepada kita apa yang tidak kita butuhkan pada masa kanak-kanak, akan tetapi kita butuhkan pada saat dewasa/
c.        Langeveld
Pendidikan merupakan setiap usaha yang dilakukan untuk mempengaruhi dan membimbing anak ke arah kedewasaan, agar anak cekatan melaksanakan tugas hidupnya sendiri.
d.   Brubacher
Pendidikan merupakan proses timbal balik dari tiap individu manusia dalam rangka penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman dan dengan alam semesta.
e.       Ki Hajar Dewantara
Pendidikan menuntun segala kodrat yang terdapat dalam diri anak sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

f.    Zahara Idris
Pendidikan merupakan serangkaian interaksi yang bertujuan antara manusia dewasa dengan anak didik secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memberikan bantuan perkembangan potensi anak secara maksimal agar menajdi manusia dewasa.
g.      Ahmad D. Marimba   
Pendidikan merupakan pemberian bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terahdap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Menurut Amin Daien Indrakusuma terdapat hal-hal pokok yang harus terdapat dalam suatu rumusan tentang pendidikan sebagai berikut :
Bahwa pendidikan itu tidak lain adalah merupakan usaha manusia. Bahwa usaha itu dilakukan dengan sengaja atau secara sadar. Bahwa usahanya itu dilakukan oleh orang-orang yang merasa bertanggung jawab kepada hari depan anak didiknya. Bahwa usahanya berupa bantuan atau bimbingan rohani dan dilakukan secara teratur dan sistematis.
Bahwa yang menjadi obyek pendidikan itu adalah anak/peserta didik yang masih dalam pertumbuhan dan perkembangan atau masih memerlukan pendidikan. Bahwa batas/sasaran akhir pendidikan adalah tingkat dewasa atau kedewasaan.
Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar oleh orang dewasa/pendidik untuk membawa anak/peserta didik menuju kedewasaan melalui proses bimbingan yang dilakukan secara teratir dan sistematis.
Secara nasional, pendidikan dirumuskan sebagai berikut :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

2.        Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan seperangkat hasil yang harus dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti serangkaian kegiatan pendidikan. Rangkaian kegiatan pendidikan yang diikuti melalui bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang kesemuanya diarahkan untuk tercapainya tujuan pendidikan.
Tingkat-tingkat tujuan pendidikan itu meliputi :
a.        Tujuan Pendidikan Nasional
Merupakan tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh suatu negara dalam jangka panjang. Tujuan ini sangat luas dan merupakan pedoman semua kegiatan/usaha pendidikan di suatu negara. Tujuan pendidikan nasional juga merupakan tujuan yang hendak dicapai dalam sistem pendidikan nasional.
Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Tujuan Pendidikan Nasional dirumuskan sebagai berikut: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
b.        Tujuan Institusional
Tujuan institusional (tujuan lembaga oendidikan) adalah tujuan dari masing-masing institusi atau lembaga. Misalnya :
-1    Tujuan Pendidikan Sekolah Dasar
-2    Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama
-3    Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas
c.    Tujuan Kurikulum
Tujuan kurikulum adalah tujuan dari masing-masing mata pelajaran atau bidang studi. Misalnya :
v  Tujuan Bidang Studi Pendidikan Agama
v  Tujuan Pendidikan Bidang Studi Matematika
v  Tujuan Pendidikan Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam
d.    Tujuan Pembelajaran (intruksional)   
Tujuan intruksional merupakan tujuan yang enggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki setiap siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behaviour) yang dapat diamati dan diukur. Terdiri atas :
-7         Tujuan Intruksional Umum (Standar Kompetensi)
Tujuan Intruksional Umum (TIU) bersifat umum dan tidak dapat diukur karena perubahan tingkah laku masih terjadi dalam diri manusia (intern).
-8    Tujuan Intruksional Khusus (Kompetensi Dasar/Indikator Hasil Belajar)
TIK merupakan tujuan pembelajaran yang sifatnya operasional yaitu dapat diamati, diukur, dan menunjukkan perubahan tingkah laku.
3.    Teori Pendidikan
a.       Teori Empirisme
John Locke (1632-1704)    Teori empirisme dikenal dengan teori tabularasa. Menurut teori ini seorang anak dilahirkan bagai kertas yang putih bersih dan lingkunganlah yang akan menulis kertas putih itu. Pribadi seseorang yang masih putih bersih akan berkembang dan dipengaruhi oleh pendidikan melalui lingkungan.
b.      Teori Nativisme
Arthur Scopenhauer (1788-1860)    Menurut teori ini perkembangan pribadi seseorang hanya ditentukan oleh faktor hereditas, faktor dalam yang berarti kodrat yang sudah ditentukan dan akan terajdi pada manusia. Faktor hereditas atau gen atau pembawaan yang dibawa anak sejak lahir akan bersifat tetap dan tidak dapat dirubah oleh pendidikan. Pendidikan tidak akan merubah manusia, karena sudah ada potensi kodrati dalam diri manusia.
c.       Teori Konvergensi
William Stern    Untuk berkembang secara maksimal seseorang disamping ditentukan oleh faktor bawaan atau hereditas sebagai faktor internal seseorang juga dapat dikembangkan melalui lingkungan (pendidikan) sebagai faktor eksternal. Perkembangan tiap individu merupakan hasil konvergensi atau pepaduan antara faktor internal dengan faktor eksternal.
d.      Teori Sumber Daya Manusia
Langeveld    Manusia dapat mengembangkan dirinya sendiri untuk selanjutnya menjadi makhluk yang berkepribadian.
e.       Teori Relativisme Budaya
Teori ini memandang manusia memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang sama yang diwariskan melalui proses pendidikan bukan melalui herediti. Dan manusia tidak dipisahkan dari kehidupan budaya serta nilai-nilai yang mewarnai kehidupannya.
f.       Teori Rekonstruksianisme       
Pendidikan merupakan sebuah institusi sosial dan sekolahpun merupakan bagian lembaga yang ada di masyarakat. Perkembangan ilmu, teknologi, dan industri yang diciptakan dalam kehidupan masyarakat telah mempengaruhi ke arah positif yaitu peningkatan kesejahteraan umat manusia dan pada suatu saat telah membawa kepada keadaan yang tidak menentu dan tiada kemantapan bagi manusia dan masyarakat itu sendiri. Secara ringkas Hugh C. Black dalam Nana Syaodih mengelompokkan teori pendidikan menjadi :
Teori Tradisional          : fungsi pendidikan ditekankan pada pemeliharaan dan penerusan warisan budaya.
Teori Progresif             : pendidikan dipandang sebagai penggali potensi peserta didik.
Teori Hasil Belajar       : pendidikan lebih mengutamakan hasil belajar yang dicapai.
Teori Proses Belajar     : pendidikan utamanya dilakukan melalui proses belajar.
3.        Komponen Pendidikan
Berdasarkan pendekatan sistem, secara sederhana komponen-komponen pendidikan terdiri atas raw input, instrumental input, dan environmental input. Ketiga komponen tersebut bila digambarkan sebagai berikut :
B.    Kurikulum
 Pengertian Kurikulum
Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu kata curir yang berarti pelari, dan curere yang berarti tempat berpacu atau tempat berlomba. Dari dua kata ini kurikulum diartikan sebagai jarak perlombaan yang harus ditempuh oleh pelari dalam suatu arena tempat berlomba.
Pengertian kurikulum secara khusus diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa di sekolah atau perguruan tinggi. Secara umum kurikulum diartikan tidak terbatas pada mata pelajaran saja, tetapi lebih luas daripada itu, kurikulum diartikan merupakan aktivitas apa saja yang dilakukan sekolah dalam rangka mempengaruhi anak dalam belajar untuk mencapai suatu tujuan, termasuk di dalamnya kegiatan belajar mengajar, mengatur strategi dalam proses belajar, cara mengevaluasi program pengembangan pengajaran dan sebagainya.
Oemar Hamalik melihat kurikulum dari beberapa tafsiran sebagai berikut :
  1. kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Dalam kurikulum terdapat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh serta dipelajari oleh siswa selama mengikuti kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran pada jenjang pendidikan tertentu. Dalam pandangan ini mata pelajaran merupakan pengalaman orang tua atau orang-orang pandai pada masa lalu yang telah tersusun secara rasional, logis, dan sistematis.
Ditinjau dari segi administrasi, kurikulum adalah kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan artinya cita-cita, harapan dan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan itu sendiri. Pada dasrnya telah ditampung dalam kebijaksanaan pendidikan pemerintah. Kebijaksanaan tersebut lalu dijabarkan dalam landasan dan program kurikulum yang dapat dilaksanakan dilembaga pendidikan. Kurikulum jadinya bukan sekedar dokumen tentang Maata Pelajaran tapi mengandung amanat/misi kehendak rakyat dalam pendidikan jika dilihat, konsep penting dari sebuah kurikulum adalah tujuan bahan pelajaran, pengalaman dan aspek perencanaan.
Salah satu ciri kurikulum adalah landasan tujuan. Landasan berfungsi sebagai tempat tumpuan dan sebagai titik tolak kurikulum. Sedang tujuan menunjukkan apa yang akan dicapai dalam kurikulum itu kurikulum pada dasarnya berlandaskan pada Pancasila sebagai landasan Ideal dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional sedang arah pendidikan berkiblat pada GBHN.
  1. kurikulum sebagai rencana pembelajaran
Merupakan suatu program dan rencana pendidikan yang disesuaikan untuk membelajarkan siswa. Dengan program dan rencana yang telah dibuat siswa melakukan aktivitas belajar untuk mengembangkan dan merubah tingkah laku sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam rencana pembelajaran yang dibuat guru harus merancang keterlibatan secara aktif siswa secara penuh untuk melakukan aktivitas belajar.
  1. kurikulum sebagai pengalaman belajar
Dalam hal ini kurikulum dirancang untuk memberikan pengalaman belajar serta mengembangkan kecakapan hidup siswa. Kurikulum sebagai pengalaman belajar mengisyaratkan bahwa kegiatan belajar tidak hanya berlangsung dalam ruangan kelas, akan tetapi juga bisa berlangsung di luar ruangan kelas. Dengan demikian semua kegiatan belajar yang dilakukan baik di dalam ruangan kelas maupun di luar ruangan kelas disebut kurikulum.
6.    Komponen-Komponen Kurikulum
Kurikulum terdiri dari beberapa komponen yang meliputi :
a.        Tujuan
Tujuan kurikulum yang berlaku pada suatu negara pada dasarnya merupakan tujuan pendidikan naional yang hendak dicapai oleh suatu negara. Tujuan yang hendak dicapai dalam kurikulum dijabarkan mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan lembaga pendidikan (institusional), tujuan kurikuler, dan tujuan intruksional umum maupun tujuan intruksional khusus atau standar kompetensi dan kompetensi dasar (dan indikator hasil belajar) yang harus dicapai oleh siswa.
b.        Materi Kurikulum/Bahan Ajar
Materi kurikulum sering disebut dengan isi kurikulum. Materi kurikulum merupakan bahan ajar atau bahan kajian dalam bentuk mata pelajaran. Dalam materi kurikulum atau bahan ajar terdapat aspek-aspek: teori, konsep, generalisasi, prinsip, definisi, preposisi, prosedur, fakta, istilah, contoh, dan ilustrasi.
Penyajian bahan ajar atau materi kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip :
Ø  berdasarkan urutan waktu (kronologis)
Ø  berdasarkan urutan sebab akibat (kausal)
Ø  berdasarkan urutan bahan ajar (structural)
c.        Strategi Mengajar/Strategi Pelaksanaan Kurikulum
Strategi mengajar merupakan pola-pola umum yang dikembangkan guru dalam rangka penyampaian isi dan pelaksanaan kurikulum. Aspek yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan startegi mengajar meliputi :
v  jenis dan jenjang pendidikan
v  proses atau kegiatan belajar mengajar
v  Strategi pengajaran yang dapat digunakan diantaranya :
v  pengajaran expository
v  pengajaran penerimaan (reception learning)
v  pengajaran penemuan (discovery learning)
v  pembelajaran penguasaan (mastery learning)
v  pengajaran terpadu (unitlearning)
v  strategi pengajaran kelompok kecil (small-group work)
v  strategi pengajaran cooperative learning
d.       Media Mengajar
Pengajaran merupakan bagian dari pembelajaran, maka media pengajaran sering disebut juga media pembelajaran. Media pengajaran adalah alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dan pesan-pesan pengajaran dari sumber belajar yaitu guru kepada peserta didik yaitu siswa agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
e.        Evaluasi Pengajaran
Evaluasi pengajaran ditujukan untuk mengetahui keberhasilan mengajar yang dilakukan guru serta keberhasilan siswa dalam melakukan aktivitas belajar serta keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.
f.         Penyempurnaan Pengajaran
Penyempurnaan pengajaran dapat dilakukan setelah mempehatikan hasil yang dicapai dalam kegiatan belajar mengajar setelah melakukan evaluasi. Penyempurnaan pengajaran mencakup perbaikan strategi pengajaran, model dan pendekatan pengajaran yang digunakan, metode dan teknik yang digunakan serta pemanfaatan alat media dan sumber belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar